keris kamardhikan/ keris baru
Lebih baik daripada tidak
Banyak orang berkata bahwa keris kuno selalu lebih baik dari keris sekarang atau sering disebut kamardhikan, memang pada puncaknya keris pusaka memang tidak tergantikan, baik teknik pembuatannya, sejarahnya maupun bahan bahannya. Perlu disadari bahwa tidak ada pukul rata, tidak semua keris kuno itu istimewa dan tidak semua keris baru itu jelek, sebaliknya begitu tidak semua keris kuno itu jelek dan tidak semua keris baru itu bagus, ada banyak keris baru yang lebih bagus daripada keris kuno, walau tidak semua keris kuno itu kurang baik, perlu diketahui dan disadari bahwa "kwalitas selalu berbanding terbalik dengan kwantitas" tidak jaman dulu tidak jaman sekarang yang namanya barang bagus jumlahnya pasti terbatas.
Perlu kita sadari juga bahwa memang pernah terjadi putus generasi dalam pembuatan keris terutama didalam kerajaan terutama yogya dan solo , setelah era HB VIII kraton yogyakarta tidak lagi mempunyai kalenggahan mpu kraton, begitu juga solo (kalau tidak salah PB XII ). Sampai pada masa tertentu perkerisan bangkit kembali dengan mpu djeno dan lain lain yang seangkatan. Masa diantara mpu masa HB VIII kepada Mpu djeno (Alm) merupakan masa kekosongan mpu, kraton tidak mengangkat mpu dan kehidupan sebagai pande keris juga tidak begitu menjanjikan karena keadaan zaman.sehingga pekerjaan sebagai mpu banyak ditinggalkan. Ilmu tentang perkerisan yang kebanyakan diwariskan melalui pitutur perlahan memudar dan hilang, sampai pada saat mpu djeno kembali berdiri sebagai mpu pun memulai dari 0 lagi, tidak bisa meneruskan keilmuan dari mpu supawinangun, segala yang dilakukannya berdasarkan ingatan sedikit tentang perkerisan dimasa lalu dan memang mpu djeno tidak diwarisi ilmu nyata tentang perkerisan yang utuh, tidak mengetahui apa itu besi balitung, purosani dll, beliau tidak melalui proses yang biasanya dilalui dalam keilmuan jawa yang kasarnya adalah "niteni, nirokke, nambahi" . niteni adalah menghafalkan ciri ricikan cara laku dll, nirokke adalah membuat keris dengan cara sama dengan cara gurunya dan membuat semirip mungkin dengan keris gurunya atau keris sebelumnya, setelah berhasil atau lulus baru "nambahi" atau berkreasi sendiri membuat ciri sendiri.
Seperti halnya pak Djeno, begitu pula mpu jaman sekarang mulai meraba raba tentang keilmuan perkerisan, mulai meraba raba kembali mana besi balitung, purosani, mangangkang dll , apa manfaatnya, bagaimana mengolahnya dll. Mungkin beberapa orang merasa sudah menemukannya dan mungkin beberapa orang bisa membuktikannya.
Sebaiknya daripada terus mengeluh dan berkoar tentang keris lama lebih bagus, keris baru koden, mpu sekarang tidak sesakti dulu dan lain lain, mpu jaman dulu kerisnya bengkong bengkong, keris waton seneng dll mari kita bantu para mpu ini membentuk kembali budaya perkerisan indonesia agar perkerisan lebih maju, skill mpu lebih maju baik skill spiritual maupun skill teknik.
Bantulah para mpu sekarang dengan membeli/memesan keris yang baik kepada para mpu agar biasa mengerjakan keris yang baik, jika tidak mampu bantulah share dengan bijak karya karya mpu jaman sekarang agar orang tertarik.
Agar generasi sekarang bisa memahami dan memaknai kembali budaya kita, terutama keagungan nilai yang terkandung dalam sebilah pusaka agar pemuda dan bangsa kita tidak lupa terhadap identitas dan tidak hancur dihajar banyaknya budaya barat, budaya arab, budaya china, budaya amerika dan lain lain
Lebih baik bergerak sedikit demi sedikit daripada tidak sama sekali, sambil berdoa semoga dikemudian hari semua menjadi lebih baik.
Gambar terlampir adalah salahsatu keris buatan almarhum mpu djeno Harumbrojo pada awal masa karirnya sebagai mpu,berdhapur Jalak Tilamsari, nangguh HB V, saat itu belum trend sertifikat sehingga keris ini tidak bersertifikat, warangka gayaman cendana wangi dengan pendhok slorok perak. mpu djeno banyak mutrani keris majapahit dan keris tangguh HB V, membuat pasikutan keris beliau saat itu cenderung langsing dan gesit dengan pamor yang sederhana.
Banyak orang berkata bahwa keris kuno selalu lebih baik dari keris sekarang atau sering disebut kamardhikan, memang pada puncaknya keris pusaka memang tidak tergantikan, baik teknik pembuatannya, sejarahnya maupun bahan bahannya. Perlu disadari bahwa tidak ada pukul rata, tidak semua keris kuno itu istimewa dan tidak semua keris baru itu jelek, sebaliknya begitu tidak semua keris kuno itu jelek dan tidak semua keris baru itu bagus, ada banyak keris baru yang lebih bagus daripada keris kuno, walau tidak semua keris kuno itu kurang baik, perlu diketahui dan disadari bahwa "kwalitas selalu berbanding terbalik dengan kwantitas" tidak jaman dulu tidak jaman sekarang yang namanya barang bagus jumlahnya pasti terbatas.
Perlu kita sadari juga bahwa memang pernah terjadi putus generasi dalam pembuatan keris terutama didalam kerajaan terutama yogya dan solo , setelah era HB VIII kraton yogyakarta tidak lagi mempunyai kalenggahan mpu kraton, begitu juga solo (kalau tidak salah PB XII ). Sampai pada masa tertentu perkerisan bangkit kembali dengan mpu djeno dan lain lain yang seangkatan. Masa diantara mpu masa HB VIII kepada Mpu djeno (Alm) merupakan masa kekosongan mpu, kraton tidak mengangkat mpu dan kehidupan sebagai pande keris juga tidak begitu menjanjikan karena keadaan zaman.sehingga pekerjaan sebagai mpu banyak ditinggalkan. Ilmu tentang perkerisan yang kebanyakan diwariskan melalui pitutur perlahan memudar dan hilang, sampai pada saat mpu djeno kembali berdiri sebagai mpu pun memulai dari 0 lagi, tidak bisa meneruskan keilmuan dari mpu supawinangun, segala yang dilakukannya berdasarkan ingatan sedikit tentang perkerisan dimasa lalu dan memang mpu djeno tidak diwarisi ilmu nyata tentang perkerisan yang utuh, tidak mengetahui apa itu besi balitung, purosani dll, beliau tidak melalui proses yang biasanya dilalui dalam keilmuan jawa yang kasarnya adalah "niteni, nirokke, nambahi" . niteni adalah menghafalkan ciri ricikan cara laku dll, nirokke adalah membuat keris dengan cara sama dengan cara gurunya dan membuat semirip mungkin dengan keris gurunya atau keris sebelumnya, setelah berhasil atau lulus baru "nambahi" atau berkreasi sendiri membuat ciri sendiri.
Seperti halnya pak Djeno, begitu pula mpu jaman sekarang mulai meraba raba tentang keilmuan perkerisan, mulai meraba raba kembali mana besi balitung, purosani, mangangkang dll , apa manfaatnya, bagaimana mengolahnya dll. Mungkin beberapa orang merasa sudah menemukannya dan mungkin beberapa orang bisa membuktikannya.
Sebaiknya daripada terus mengeluh dan berkoar tentang keris lama lebih bagus, keris baru koden, mpu sekarang tidak sesakti dulu dan lain lain, mpu jaman dulu kerisnya bengkong bengkong, keris waton seneng dll mari kita bantu para mpu ini membentuk kembali budaya perkerisan indonesia agar perkerisan lebih maju, skill mpu lebih maju baik skill spiritual maupun skill teknik.
Bantulah para mpu sekarang dengan membeli/memesan keris yang baik kepada para mpu agar biasa mengerjakan keris yang baik, jika tidak mampu bantulah share dengan bijak karya karya mpu jaman sekarang agar orang tertarik.
Agar generasi sekarang bisa memahami dan memaknai kembali budaya kita, terutama keagungan nilai yang terkandung dalam sebilah pusaka agar pemuda dan bangsa kita tidak lupa terhadap identitas dan tidak hancur dihajar banyaknya budaya barat, budaya arab, budaya china, budaya amerika dan lain lain
Lebih baik bergerak sedikit demi sedikit daripada tidak sama sekali, sambil berdoa semoga dikemudian hari semua menjadi lebih baik.
Gambar terlampir adalah salahsatu keris buatan almarhum mpu djeno Harumbrojo pada awal masa karirnya sebagai mpu,berdhapur Jalak Tilamsari, nangguh HB V, saat itu belum trend sertifikat sehingga keris ini tidak bersertifikat, warangka gayaman cendana wangi dengan pendhok slorok perak. mpu djeno banyak mutrani keris majapahit dan keris tangguh HB V, membuat pasikutan keris beliau saat itu cenderung langsing dan gesit dengan pamor yang sederhana.


Komentar
Posting Komentar