KERIS HB VIII
KERIS TANGGUH HAMENGKU BUWONO VIII
Pada masa Hamengku Buwana VIII telah terjadi adanya pergeseran skala prioritas budaya di kraton Yogyakarta. Skala prioritas kraton difokuskan untuk meningkatkan dan mengembangkan kwalitas budaya karawitan, seni tari, dan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Seiring dengan kemajuan seni- seni tersebut, seni perkerisan tetap berjalan, namun tidak sekiprah pada saat para pendahulu sri sultan hamengku buwana VIII. Pada masa ini Empu kraton semakin berkurang, bahan bahan berkualitas untuk membuat pusaka semakin menipis dan bahan pamor untuk pembuatan keris dirasakan semakin langka, sehingga keris keris yasan dalem Hamengku Buwana VIII umumnya memiliki garis garis pamor yang agak tipis dan berwarna keabu abuan.
Keris tangguh Hamengku Buwana VIII, bercirikan tangguh mataram, bila dibandingkan keris tangguh Hamengku Buwana VII keris yasan Hamengku Buwana VIII terlihat sedikit kurang panjang, perawakannya keder, terkesan tebal, tidak begitu lebar, kadar bajanya cukup, kebanyakan pamor mlumah, pengolahan besinya cukup, memiliki garis pamor agak keabu abuan, dan kebanyakan berdapur lurus. Pasikutan wibawa-pideksa dalam pewayangannya diibaratkan Raden Kacanegara (Raden Gathotkaca).
Empu yang termashyur pada masa Sultan Hamengku Buwana VIII adalah, Ki Lurah Empu Tarunadahana dan Ki Lurah Empu Prawiradipura.
Victor MH, 2016
Dikutip dari makalah pametri wiji 10 oktober tahun 2009, yang disusun oleh BP. Kardono, BP.H. Imam Sudjono dan BP. Boedhi Aditya
Foto Kagungan Dalem Keris Sewidakan, tangguh Hamengku Buwana VIII
Pada masa Hamengku Buwana VIII telah terjadi adanya pergeseran skala prioritas budaya di kraton Yogyakarta. Skala prioritas kraton difokuskan untuk meningkatkan dan mengembangkan kwalitas budaya karawitan, seni tari, dan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Seiring dengan kemajuan seni- seni tersebut, seni perkerisan tetap berjalan, namun tidak sekiprah pada saat para pendahulu sri sultan hamengku buwana VIII. Pada masa ini Empu kraton semakin berkurang, bahan bahan berkualitas untuk membuat pusaka semakin menipis dan bahan pamor untuk pembuatan keris dirasakan semakin langka, sehingga keris keris yasan dalem Hamengku Buwana VIII umumnya memiliki garis garis pamor yang agak tipis dan berwarna keabu abuan.
Keris tangguh Hamengku Buwana VIII, bercirikan tangguh mataram, bila dibandingkan keris tangguh Hamengku Buwana VII keris yasan Hamengku Buwana VIII terlihat sedikit kurang panjang, perawakannya keder, terkesan tebal, tidak begitu lebar, kadar bajanya cukup, kebanyakan pamor mlumah, pengolahan besinya cukup, memiliki garis pamor agak keabu abuan, dan kebanyakan berdapur lurus. Pasikutan wibawa-pideksa dalam pewayangannya diibaratkan Raden Kacanegara (Raden Gathotkaca).
Empu yang termashyur pada masa Sultan Hamengku Buwana VIII adalah, Ki Lurah Empu Tarunadahana dan Ki Lurah Empu Prawiradipura.
Victor MH, 2016
Dikutip dari makalah pametri wiji 10 oktober tahun 2009, yang disusun oleh BP. Kardono, BP.H. Imam Sudjono dan BP. Boedhi Aditya
Foto Kagungan Dalem Keris Sewidakan, tangguh Hamengku Buwana VIII

Komentar
Posting Komentar